Oleh: nusaibah | September 12, 2007

Dakwah Ditengah Hemogoni Barat

al’aqshoBanyak fakta yang dinilai sebagai gejala kebangkitan Islam. Akan tetapi tidak semua pengamat setuju bahwa semua fakta yang bermerek “Kebangkitan Islam” dapat di nilai sebagai pertanda kebangkitan Islam sesungguhnya. Bahkan kebanyakan fakta itu memberi kesan sebaliknya. Ummat Islam datang kegelangang sejarah_bukan turut bermain_ tetapi sekedar berteriak saja: “Islam bangkit …….!”. Harapan akan tampilnya Islam yang lebih baik itu selalu ada, tidak diragukan lagi bahwa ketika Islam lahirpun banyak golongan yang mempertanyakannya bahkan melakukan tekanan. Abdullah Said (alm) seorang visioner dalam menciptakan lingkungan Islam menyatakan “Perjuangan Islam yang sepi dari tantangan dan cobaan patut diragukan. Menarik untuk dicermati, sebesar apapun ujian ummat Islam selalu memberi konsekwensi baik, dengan kejadian 11 September 2001 orang mulai bertanya-tanya, bagaimanakah sebenarnya Islam itu?. Dan kita mendapi jumlah muslim setelah kejadian itu semakin bertambah.

Banyak fakta yang dinilai sebagai gejala kebangkitan Islam. Akan tetapi tidak semua pengamat setuju bahwa semua fakta yang bermerek “Kebangkitan Islam” dapat di nilai sebagai pertanda kebangkitan Islam sesungguhnya. Bahkan kebanyakan fakta itu memberi kesan sebaliknya. Ummat Islam datang kegelangang sejarah_bukan turut bermain_ tetapi sekedar berteriak saja: “Islam bangkit …….!”. Harapan akan tampilnya Islam yang lebih baik itu selalu ada, tidak diragukan lagi bahwa ketika Islam lahirpun banyak golongan yang mempertanyakannya bahkan melakukan tekanan. Abdullah Said (alm) seorang visioner dalam menciptakan lingkungan Islam menyatakan “Perjuangan Islam yang sepi dari tantangan dan cobaan patut diragukan. Menarik untuk dicermati, sebesar apapun ujian ummat Islam selalu memberi konsekwensi baik, dengan kejadian 11 September 2001 orang mulai bertanya-tanya, bagaimanakah sebenarnya Islam itu?. Dan kita mendapi jumlah muslim setelah kejadian itu semakin bertambah.

Bersatunya musuh Islam
Saiful Hamiwanto menulis 4 kekuatan selain militer yang digunakan musuh Islam untuk mengagalkan kebangkitan ummat Islam. Repotnya empat “mantra” kekauatan itu tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi berjalin-bergelindan, saling menguatkan, termasuk dengan kekuatan militer sehingga menjadi senjata terpadu yang ampuh untuk mematikan ummat Islam.
Pertama, mantra ideologi. Ideologi yang kini diusung oleh musuh-musuh Islam, terutama Barat, adalah liberalisme, materialisme, dan sekulisme, yang kesemuanya saling menopang dan menguatkan. Ide busuk itu kemudian dianggap “kebenaran” yang harus diadopsi oleh siapa pun, termasuk ummat Islam. Siapapun yang menolak “kebenaran” sesat itu akan sangat terpojokkan karena akan terkesan sebagai manusia aneh yang terkucilkan dari masyarakat dunia lainnya.
Kedua, mantra politik. Barat telah berhasil menjadikan ummat Islam sebagai musuh bersama (connom enemy) dunia yang boleh diperangi, dan selalu dilabelkan sebagai teroris. Ini adalah senjata andalan sebagai pembunuhan keraker terhadap ummat Islam, terlebih setalah peristiwa 11 september 2001.
Ketiga, mantra ekonomi. Dengan pilar utama kapitalisme. Beberapa elemen yang digunakan adalah, hutang berbasis riba, globalisasi, dan pasar bebas (free trade).
Untuk menghadang jangan sampai negeri yang berpenduduk mayoritas Islam ini menjadi kekuatan Islam di Asia Tengara, negara-negara Barat, antara lain melalui Bank Dunia, IMF, CGI, dan Paris Club menyodorkan paket-paket “bantuan” berupa utang, yang sesungguhnya merupakan jebakan utang (debt trap).
Empat, mantra sosial budaya. Dalam banyak literatur, perang dibidang ini biasa disebut ghazwul fikr (perang pemikiran), senjata utama pada mantra ini adalah gaya hidup (life style) Inilah peperangan yang paling melenakan, yang membius dan menghilangkan kesadaran umat Islam, yang mereka justru menikmati suguhan “narkoba budaya” itu hingga mencapai estase, hilang akal dan hilang imangenal umat
Maka untuk meniti jalan dakwah ini haruslah menampilkan Islam secara kaffaf, tidak bisa secara parsial. Seluruh komponen ummat Islam bahu membahu dalam mendakwahkan Islam. Cara pandang ini perlu untuk mengembalikan mentalitas cinta pada Islam itu sendiri. Bila dalam komunitas kaum muslimin ini benar terjadi, maka Islam sebagai solusi dunia akan segera dirasakan. Sebab Islam bukan hanya agama konsep, namun praktek dalam kehidupan realitasnya juga menjadi tuntunan. Ummat Islam yang berpandangan lurus dalam menyikapi kehidupan, dan menyadari bahwa ada kehidupan akhirat setelah berakhirnya dunia ini. akan dengan senang hati mengigatkan sudaranya berlaku kebaikan. “Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. (QS. Al-Ashr, 103; 2-3) Masyarakat yang heterogen, bercampur antar suku, kebudayaan, adat istiadat dan ditambah konflik yang berkepanjang perlu disikapi secara arif dan bijaksana. Dari semua itu pastilah akan melahirkan pola pikir yang berbeda-beda. Maka untuk memahamkan mereka pada Islam perlu pendekatan yang tepat. Secara umum, seperti yang diungkap oleh Syekh Muhammad Abduh yang dikutip oleh Drs. Alwisral Imam Zaidalah, menjelaskan tiga golongan manusia yang dihadapi oleh seorang muslim yaitu:

1. Golongan cendekiawan yang cinta kebenaran, dapat berfikir kritis, cepat menangkap persoalan. Dan mereka harus di panggil dengan “hikmah” yakni dengan alasan bahwa golongan ini mempunyai daya pikir akal yang kuat.

2. Golongan awam, yakni orang kebanyakan yang tidak bisa berfikir kritis dan mendalam, belum menangkap pengertian-pengertian yang tinggi. Mereka itu dipanggil dengan “mau’izatulhsanah”.

3. Golongan yang diantara keduanya. Yakni golongan menengah, berdakwah dengan mereka tidak boleh dengan paksaan atau bersikap terlalu lemah, mereka harus dihadapi dengan “mujadalah billati hiya ahsan”

Ahmad Musthafa Al-Maraghi dalam kitabnya tafsir Al-Maraghi memberi keterangan yang lebih rinci berkaitan dengan tiga macam golongan tersebut, yakni:

1. Hikmah, ialah ucapan yang jelas, lagi diiringi dengan dalil yang menjelaskan bagi kebenaran serta menghilangkan bagi keraguan

2. Wal mau’izatul hasanah ialah melalui dalil-dalil yang zhani (meyakinkan) yang melegakan bagi orang awam

3. Wajidilhum billati hiya ahsan, percakapan dan bertukar pikiran untuk memuaskan bagi orang-orang yang menentang.

Bagi seorang juru dakwah mengenal manusia/masyarakat menjadi suatu kemutlakan. Manusia adalah mahluk Allah SWT yang multi dimensional, artinya memiliki banyak aspek. Secara global aspek tersebut meliputi tiga pokok yang mendasar, yaitu yang berkaitan dengan;

1. Aspek Ruh,

2. Aspek jasmani,

3. Aspek lingkugan.

Potret juru dakwah Setiap dakwah/seruan membutuhkan juru dakwah/penyeru. Yang dibutuhkan oleh juru dakwah adalah unsur-unsur gerakannya, semangat untuk menyebarkan dan sarana prasarana untuk menumbuh kembangkan dakwah. Dakwah harus dilakukan dengan serius, tidak boleh dilakukan dengan setengah-setengah ataupun bertujun duniawi. Dakwah memerlukan para da’i yang mukhlis, giat, dan dinamis. Karena seorang da’i adalah pendidik dan pembangun generasi.


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: