Oleh: nusaibah | September 12, 2007

Puncak Kebiadaban Itu Khamr

Diriwayatkan oleh Az-Zuhriy,  Khalifah Ustman bin Affan r.a.  berkhutbah  tentang pangkal perbuatan keji dan sumber segala dosa. Dulu hidup seorang ahli ibadah yang selalu tekun beribadah ke masjid,  Suatu hari lelaki yang soleh itu berkenalan dengan seorang wanita cantik. Anggap saja kembang desa.

Karena sudah terjatuh hati, lelaki itu menurut saja ketika disuruh memilih antara tiga syarat dari pacar barunya itu. Pertama minum khamr, kedua berzina dan ketiga membunuh bayi. Setelah dipikir dan timbang, ahli ibadah itu memutuskan untuk menenggak arak. Ia mengira minum arak dosanya lebih kecil daripada dua pilihan lain yang diajukan wanita pujaannya itu.
Ahli ibadah mabuk. Mulutnya meracau dan kepalanya terasa pusing. Kesadarannya sekonyong-konyong lenyap. Keberaniannya timbul tanpa kendali. Apa yang terjadi?. Sebab meminum arak dia melanggar dua kejahatan yang lain. Dalam keadaan mabuk dan lupa diri, lelaki itu menzinai wanita itu dan membunuh bayi.

“Karena itulah hindarilah khamr, kerana minuman itu sebagai biang keladi segala kejahatan dan perbuatan dosa. Ingatlah, iman dengan arak tidak mungkin bersatu dalam tubuh manusia. Salah satu di antaranya harus keluar. Orang yang mabuk mulutnya akan mengeluarkan kata-kata kufur, dan jika menjadi kebiasaan sampai akhir ayatnya, ia akan kekal di neraka.”
*******
Selain minuman keras (miras) yang memabukkan. Salah satu bentuk kejahatan yang populer saat ini adalah penyalahgunaan obat terlarang yang dikenal sebagai pil koplo, narkotika atau sabu-sabu dll.  Meningkatnya pengguna narkotika dan miras tak hanya menciptakan situasi lingkungan yang tidak kondusif, tapi juga menimbulkan masalah sosial psikologis terhadap pemakainya. Bila penggunaan obat dan alkohol itu overdosis, dipastikan menimbulkan gangguan yang mempengaruhi fungsi kepribadian seseorang dalam melihat realitas.
Zat adeptif dalam bentuk cair atau padat ini telah nyata memberi konstribusi bagi hancurnya generasi. Maka wajar dan menjadi kesyukuran bila dalam Islam hal tersebut terlarang. Allah menegaskan banyak ayat tentang pelarangan dan pengharamannya. Namun, seiring dengan tuanya bumi, minuman dan ”obat terlarang”  masih saja beredar, malah berkembang dan melahirkan varian baru.
Maka, makalah sederhana ini sedikit mengorek  pengharaman  dari khamar. Mudah-mudahan menjadi pengajaran dan pelajaran bagi kita semua.Salam

A. Pengertian khamr

Dalam bahasa Indonesia kata khamar merupakan kata benda yang bermakna minuman keras . Dalam bahasa arab berasal dari kata Al-khamru  ialah masdar dari kata ”khamara” sewazan dengan dhoroba , yaitu “khamara, yakhmuru, khamran,” yang berarti menutupi.  Sedang Abu Bakar Al-jazairi mendefinisakan khamar sebagai minuman apapun jenisnya yang memabukkan .

B. Dalil pengharaman
b.a. Dalil Al-Qur’an

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja. (QS. An-Nisa, 4; 43)

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu  (QS. Al-Maidah, 5: 91)

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfa`at bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfa`atnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir, (Qs. Al-Baqoroh, 2: 219)

Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). (QS. Al-Maidah, 5: 90)

b.b. Dalil dari hadits

Diriwayatkan daripada Anas bin Malik r.a katanya:  Aku sedang memberi minum kepada para tetamu di rumah Abu Talhah pada hari pengharaman arak. Mereka hanya meminum arak yang diperbuat dari buah kurma. Tiba-tiba terdengar satu seruan yang memberitahu. Keluar dan lihatlah! Akupun keluar, ternyata ada satu suara yang mengumumkan: Sesungguhnya arak telah diharamkan. Arak mengalir di jalan-jalan Madinah. Abu Talhah berkata kepadaku: Keluarlah dan curahkanlah arak itu, Lalu aku mencurahkannya. Tiba-tiba ada orang berkata: Si anu telah terbunuh, si anu telah terbunuh, sedangkan perutnya dipenuhi dengan arak.  (HR.  Bukhari, Muslim)

Diriwayatkan   Aisyah r.a:  Rasulullah Saw pernah ditanya tentang minuman yang dibuat daripada madu arak. Nabi  menjawab: Setiap minuman yang memabukkan adalah haram (HR. Bukhari, Muslim)

Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Aku telah didatangi Buraq. Ia itu seekor binatang yang berwarna putih, lebih besar dari kaledai tetapi lebih kecil dari baghal. Ia merendahkan tubuhnya sehinggalah perut buraq tersebut mencecah bumi. Baginda bersabda lagi: Tanpa membuang masa, aku terus menungganginya sehinggalah sampai ke Baitulmuqaddis. Baginda bersabda lagi: Aku mengikatnya pada tiang masjid sebagaimana yang biasa dilakukan oleh para Nabi. Baginda bersabda lagi: Sejurus kemudian aku masuk ke dalam masjid dan mendirikan sembahyang sebanyak dua rakaat. Setelah selesai aku terus keluar, secara tiba-tiba aku didatangi dengan semangkuk arak dan semangkuk susu oleh Jibril a.s. Aku memilih susu. Lalu Jibril a.s berkata: Engkau telah memilih fitrah. (HR. Muslim).

C. Analisis

Setiap Yang Memabukkan Berarti Arak.  Pertama kali yang dicanangkan Nabi Muhammad s.a.w.  tentang masalah arak, yaitu beliau tidak memandangnya  dari segi bahan yang dipakai untuk membuat arak itu, tetapi beliau memandang dari segi pengaruh yang ditimbulkan, yaitu memabukkan. Oleh karena itu bahan  apapun yang nyata-nyata memabukkan berarti dia itu arak, betapapun merek dan nama yang dipergunakan oleh manusia; dan bahan apapun yang dipakai. Oleh sebab itu Beer,   dan sebagainya dapat dihukumi haram.

Rasulullah s.a.w. pernah ditanya tentang minuman yang  terbuat dari madu, atau dari gandum dan sya’ir yang diperas sehingga menjadi keras. Nabi Muhammad sesuai dengan sifatnya berbicara pendek tetapi padat, maka  didalam menjawab pertanyaan tersebut beliau sampaikan  dengan kalimat yang pendek juga, tetapi padat:  “Semua yang memabukkan berarti arak, dan setiap arak adalah haram.” (Riwayat Muslim)  Dan Umar pun mengumumkan pula dari atas mimbar Nabi,  “Bahwa yang dinamakan arak ialah apa-apa yang dapat  menutupi fikiran.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

a. Minum Sedikit

Untuk kesekian kalinya Islam tetap bersikap tegas  terhadap masalah arak. Tidak lagi dipandang kadar  minumannya, sedikit atau banyak. Kiranya arak telah  cukup dapat menggelincirkan kaki manusia. Oleh karena  itu sedikitpun tidak boleh disentuh.
Justru itu pula Rasulullah s.a.w. pernah menegaskan:  “Minuman apapun kalau banyaknya itu memabukkan, maka  sedikitnya pun adalah haram.” (Riwayat Ahmad, Abu Daud, Tarmizi)

“Minuman apapun kalau sebanyak furq itu memabukkan,  maka sepenuh tapak tangan adalah haram.” (Riwayat Ahmad, Abu Daud, Tarmizi)
b. Memperdagangkan Arak
Rasulullah tidak menganggap sudah cukup dengan  mengharamkan minum arak, sedikit ataupun banyak,  bahkan memperdagangkan pun tetap diharamkan, sekalipun  dengan orang di luar Islam. Oleh karena itu tidak  halal hukumnya seorang Islam mengimport arak, atau  memproduser arak, atau membuka warung arak, atau  bekerja di tempat penjualan arak.
Dalam hal ini Rasulullah s.a.w. pernah melaknatnya,  yaitu seperti tersebut dalam riwayat di bawah ini:  “Rasulullah s.a.w. melaknat tentang arak, sepuluh  golongan:

(1) yang memerasnya, (2) yang minta  diperaskannya, (3) yang meminumnya, (4) yang membawanya, (5) yang minta dihantarinya, (6) yang  menuangkannya, (7) yang menjualnya, (8) yang makan  harganya, (9) yang membelinya, (10) yang minta dibelikannya.” (Riwayat Tarmizi dan Ibnu Majah)  Setelah ayat al-Quran surah al-Maidah (90-91) itu  turun, Rasulullah s.a.w. kemudian bersabda:  “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan arak, maka  barangsiapa yang telah mengetahui ayat ini dan dia  masih mempunyai arak walaupun sedikit, jangan minum  dan jangan menjualnya.” (Riwayat Muslim).
Rawi hadis tersebut menjelaskan, bahwa para sahabat  kemudian mencegat orang-orang yang masih menyimpan  arak di jalan-jalan Madinah lantas dituangnya ke tanah.
Sebagai cara untuk membendung jalan yang akan membawa  kepada perbuatan yang haram (saddud dzara’ik), maka  seorang muslim dilarang menjual anggur kepada orang
yang sudah diketahui, bahwa anggur itu akan dibuat  arak. Karena dalam salah satu hadis dikatakan:  “Barangsiapa menahan anggurnya pada musim-musim  memetiknya, emudian dijual kepada seorang Yahudi atau  Nasrani atau kepada tukang membuat arak, maka sungguh jelas dia akan masuk neraka.” (Riwayat Thabarani)

c. Seorang Muslim Tidak Boleh Menghadiahkan Arak

Kalau menjual dan memakan harga arak itu diharamkan bagi seorang muslim, maka menghadiahkannya walaupun  tanpa ganti, kepada seorang Yahudi, Nasrani atau yang lain, tetap haram juga.

Seorang muslim tidak boleh menghadiahkan atau menerima  hadiah arak. Sebab seorang muslim adalah baik, dia  tidak boleh menerima kecuali yang baik pula.

Diriwayatkan, ada seorang laki-laki yang memberi  hadiah satu guci arak kepada Nabi s.a.w., kemudian  Nabi memberitahu bahwa arak telah diharamkan Allah.
Orang laki-laki itu bertanya:  Rajul: Bolehkah saya jual?  Nabi: Zat yang mengharamkan meminumnya,  mengharamkannya juga menjualnya. Rajul: Bagaimana kalau saya hadiahkan raja kepada orang Yahudi?  Nabi: Sesungguhnya Allah yang telah mengharamkan arak,  mengharamkan juga untuk dihadiahkan kepada orang  Yahudi. Rajul: Habis, apa yang harus saya perbuat?
Nabi: Tuang saja di selokan air. (Al-Humaidi dalam  musnadnya) .

D. Rumus kimiawi

Etanol (disebut juga etil-alkohol atau alkohol saja), adalah alkohol yang paling sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Karena sifatnya yang tidak beracun bahan ini banyak dipakai sebagai pelarut dalam dunia farmasi dan industri makanan dan minuman. Etanol tidak berwarna dan tidak berasa tapi memiliki bau yang khas. Bahan ini dapat memabukkan jika diminum. Etanol sering ditulis dengan rumus EtOH. Rumus molekul etanol adalah C2H5OH atau rumus empiris C2H6O .

Orang awam mengartikan alkohol sebagai etanol, C2H5OH, ini adalah satu-satunya alkohol yang aman di minum asal masih dalam batas tertentu.  Alkohol dengan kadar  tinggi tidak dapat diminum dan bersifat racul, semisal spritus.

Hasil penelitian para pakar kesehatan, hampir semua menyatakan alkohol dapat mempengaruhi kerja tubuh dan otak, serta mampu mengubah tingkah laku seseorang ke arah negativ.  Hingga jika sudah menjadi suatu ketagihan yang akut, sistim hormon manusia (terutama pancreatic endocrine system) menjadi terhambat, fungsi hati pun menjadi terganggu.  Selain itu juga mempengaruhi hormon kesuburan dan bayi yang dilahirkannya.  Alkohol pun dapat menghambat sistim kerja syaraf pusat, sehingga hilang kesadarannya, bahkan dalam kasus yang lebih akut, mampu menjadikan seseorang dalam keadaan koma, akhirnya binasa, padahal Allah SWT sudah memperingatkan manusia dalam firmanNya : “…., dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri dalam kebinasaan”  (QS Al Baqarah (2) :195)

E. Sumber alkolhol

1. Methyl alkohol  (Methanol) atau alkohol (kayu)
2. Ethily alkohol (Ethanol) atau alkohol biji-bijian.
Methyl alkohol (methanol) tidak digunakan untuk minuman kerana ia merupakan racun yang kuat, namun kadang ia dicampurkan sebagai bahan frekmentasi untuk mempercepat proses kimiawi penghasil produk khamr. Sedang  ethly alkohol digunakan sebagai campuran di dalam minuman keras dalam bentuk cair.

F. Hukum Khamar

Abu bakar Al-Jazairi dalam kitabnya Minhajul muslim menegaskan  keharaman dari khamar baik sedikit maupun banyak, penisbatan ini berdasarkan  dalil-dalil yang Qothi .Qs. Al-Maidah; 90-9). Hukum bagi peminum khamar, jika ia terbukti melakukannya  maka harus didatangkan dua saksi atau pengakuan dari pelaku dengan hukuman cambuk 80 kali pada  pungungnya dan jika  budak cukup 40 kali .ini berdasarkan surah  An-Nisa; 25, ”Maka  atas mereka separoh hukuman dari hukuman wanita-wanita merdeka yang bersuami”

G. Sejarah khamr dalam Islam.

Kenyataan sejarah membuktikan, semua bangsa meminum khamar. Di tanah Arab dikenal dengan khamar. Di barat disebut alkohol. Dan di Indonesia orang menamai arak, badeg atau tuak. Semua varian itu berasal dari tumbuhan yang mengalami frekmentasi dan proses kimia. Jika di Indonesia berasal dari pohon aren atau sari tape, maka ditanah Arab berasal dari buah angur atau kurma.

Ketika Islam datang,  arak atau khamr masih menjadi menu yang tersaji. Bahkan para sahabat  banyak yang meminumnya. Salah satu bukti itu terjadi pada Umar Ibnul Khattab ra,  Umar  dulunya dikenal sebagai seorang peminum khamar pada zaman jahiliah,  maka banyak ayat turun mengenai masalah khamar ini,  (QS , 5: 90. QS.  5: 90. QS. , 5: 90).

Ketika ayat-ayat tersebut dibacakan, Umar serentak berkata: “Kami berhenti, kami berhenti.” Sejak itu Umar menghentikan kebiasaannya. Untuk menyosialisasikannya, cukup seorang penyeru berseru di setiap sudut Kota Madinah tentang pengharaman khamar. Konon, orang yang sedang memegang gelas langsung memecahkannya, sedangkan yang tengah minum segera memuntahkannya.

Demikian hebatnya pengaruh wahyu yang memuat ancaman terhadap peminum. Tidak ada perdebatan dan perbantahan, semua tunduk dan tawadhu melaksanakannya. Peringatan Allah itu di masa kita hidup saat ini, terbukti kebenarannya. Dampak miras dan judi telah menebar kehancuran yang luar biasa dalam perilaku umat.

Khamar di Indonesia

Ada sebuah buku tua karangan J Kats, seorang pejabat kolonial Belanda.  diterbitkan   masa-masa awal abad ke-20, berjudul Het alcoholkwaad dapat dilihat sebagai bagian dari kebijakan politik etis. Politik yang digagas oleh kaum ”humanis” Belanda itu sendiri mengamanatkan agar pemerintah meningkatkan kesejahteraan penduduk pribumi di tanah jajahan antara lain melalui pendidikan. Buku ini merupakan salah satu wujud pemenuhan program politik pemerintah tersebut.

Dalam pendahuluannya, Kats menyebutkan bahwa bukunya dimaksudkan untuk memberikan informasi mengenai manfaat dan mudarat minuman keras bagi manusia sehingga patut diketahui oleh pejabat, pegawai pemerintah, kaum muda, dan seluruh anak negeri pada umumnya.
Intinya, Kats menekankan bahwa meskipun alkohol memiliki manfaat tertentu (misalnya untuk pengobatan), cairan memabukkan itu lebih banyak mudaratnya bagi manusia.
Supaya sasaran buku bisa tercapai secara efektif, Kats merasa perlu ”mencari dukungan” dari organisasi masyarakat dan elite pribumi. Dikutipnya salah satu hasil keputusan Kongres Sarekat Islam pada 1915, yang menyerukan agar pemerintah memberlakukan undang-undang untuk melarang anak negeri menggunakan minuman keras; juga pernyataan Muhammadiyah di Yogyakarta yang menginginkan agar pemerintah memberlakukan sistem monopoli perdagangan minuman keras seperti halnya monopoli pada perdagangan candu.
Sikap Boedi Oetomo juga tegas, yakni mendesak pemerintah agar membatasi tempat penjualan minuman keras dan mempermahal harga minuman jenis itu dengan cara menaikkan cukai. Tidak kalah pentingnya, organisasi itu menyerukan kepada masyarakat, jika hendak memilih pamong atau pemimpinnya supaya memilih yang ”bebas alkohol” sehingga layak dijadikan suri teladan bagi rakyatnya.
Sementara itu, sumber lain menyebutkan bahwa pada tahun 1918, dua tahun sebelum buku Kats terbit, pemerintah membentuk Komisi Pemberantasan Alkohol (Alcoholbes- trijdings-commissie) yang ditugasi untuk menyelidiki dan memerangi penggunaan dan penyalahgunaan alkohol di kalangan masyarakat Hindia Belanda. Yang menarik, komisi diketuai oleh pejabat pribumi, yaitu PTA Koesoemo Joedo, Bupati Ponorogo, dengan anggota yang terdiri dari berbagai unsur pemerintah dan masyarakat, seperti inspektur, priayi, zending, militer, dan organisasi sosial.
Dalam laporannya, Komisi menemukan bahwa konsumsi minuman keras telah meluas di kalangan masyarakat. Di Batavia, misalnya, pembuatan, penjualan, dan penggunaan minuman jenis itu sudah sampai pada taraf mengkhawatirkan. Kawasan Senen disebut-sebut sebagai tempat jual-beli minuman beralkohol secara gelap. Demikian juga lokalisasi pelacuran (broedplat-sen) tidak salah lagi menjadi ajang hura-hura yang meruapkan bau alkohol (lihat arsip Rapport van de Alcoholbestrijdings-commissie, Weltevreden, Landsdrukkerij, 1922).
Upaya pemberantasan minuman beralkohol juga dilancarkan di beberapa daerah di Pulau Jawa. Sasaran utamanya adalah minuman keras tradisional yang populer di kalangan masyarakat pribumi, seperti arak, badèg, ciu, dan sejenisnya, yang menurut polisi digolongkan sebagai ”gelap” alias tidak berizin.
Operasi pemberantasan yang digelar dalam lima tahun (1920-1925) berlangsung ”seru” karena melibatkan pamong setempat, seperti lurah, camat, bahkan wedana, dan telik sandi penduduk desa yang diberi iming-iming hadiah uang apabila berhasil memberikan informasi mengenai keberadaan pembuat arak kepada polisi. Saking semangatnya mengintai sasaran, para telik sandi kadang-kadang tidak akurat dengan melaporkan pembuat tape singkong sebagai ”produsen arak gelap”, seperti yang terjadi di Madiun, Gombong, dan Distrik Bekonang di Surakarta.
Tape singkong memang mengandung alkohol, tetapi bukan maksud penjual tape itu untuk membuat arak. Pada titik ini tidak jarang terjadi konflik antara mata-mata desa yang memburu gulden dan simbok bakul tape yang sekadar mengais beberapa sen (lihat arsip proses verbal Algemeene Politie Batavia atau laporan mantri polisi di sejumlah daerah di Jawa; koleksi Arsip Nasional Republik Indonesia/ANRI, Jakarta).
Alhasil, upaya memerangi minuman keras tersebut tampaknya tidak terlalu efektif kalaupun bukan gagal sama sekali. Letak persoalannya barangkali pertama-tama pada tradisi mengonsumsi minuman beralkohol yang sudah lama berakar di kalangan masyarakat pribumi di Nusantara. Dalam naskah kuno Nagarakertagama yang ditulis pada zaman keemasan Kerajaan Majapahit, misalnya, diketahui bahwa minuman keras pada masa itu selalu menjadi bagian dari perjamuan agung di keraton.
Biasanya, dalam pesta tahunan seusai panen raya, raja akan membuka persamuan besar itu dengan menyuguhkan tampo, yakni arak keras yang terbuat dari beras jenis terbaik. Di lain pihak, orang-orang Belanda sendiri, termasuk para ”oknum” pejabatnya, mempunyai interes dalam bisnis impor minuman keras ”modern” dari Eropa, seperti brendi dan jenever. Itu berarti mendatangkan ribuan gulden cukai masuk ke kas pemerintah selama bertahun-tahun (lihat arsip dokumen Departement van Financiën yang tersimpan di Kantor ANRI, Jakarta).
Pada 1905, seorang pengusaha Belanda, Th F van Vloten, yang menjalankan bisnisnya dari Cairo, Mesir, mengajukan proposal kepada Departement van Financiën agar pemerintah memberlakukan monopoli perdagangan arak. Belakangan diketahui bahwa pengusaha itu ternyata berminat membuka pabrik arak di bawah bendera ”industri spiritus”. Namun usaha mendapat respon negatif.
Alasan pembangunan pabrik yang diajukan Van Vloten, yaitu untuk memenuhi kebutuhan akan bahan bakar (spiritus antara lain digunakan untuk menyalakan lampu petromaks) di Hindia Belanda,  diragukan Abendanon. ”Di sini [Hindia Belanda],” katanya, ”harga kayu bakar dan minyak tanah amat murah dan banyak tersedia bahan bakar lainnya” (lihat ”Consideratiën en advis van den Directeur OEN”, Nomor 753, Batavia, 15 Januari 1906; arsip koleksi ANRI, Jakarta).
Penolakan Direktur OEN tersebut didasarkan pada argumen bahwa bidang ”industri” yang berada di bawah kewenangannya lebih diarahkan pada pengertian ”kerajinan seni” (kunstnijverheid) dalam rangka pendidikan pertukangan bagi penduduk anak negeri. Jadi tidak ada urusan dengan pabrik.
Sebagai ”Bapak Politik Etis”, Abendanon tentu saja berkewajiban mengamankan kebijakan politik yang dia sendiri ikut menggagasnya. Namun, ketidaksetujuannya terhadap proposal pembangunan pabrik ”cairan yang membuat bersemangat” tersebut tidak menjadi penghalang bagi pengusaha yang meminatinya. Nyatanya, di Surabaya telah beroperasi Nederlandsch-Indische Spiritus-Maatschappij (NISM, Perusahaan Spiritus Hindia Belanda) yang menunjukkan sikap antipatinya terhadap usaha arak tradisional.
Pihak NISM melihat usaha arak itu ”mengganggu” bisnis mereka. NISM berdalih bahwa industri penyulingan seperti spiritus dan minuman keras merupakan industri berteknologi tinggi dan berbiaya mahal. Karena itu, menurut mereka, selayaknya jika usaha ”yang kecil-kecil” dihentikan saja dan segera ”membangun pabrik dengan kapasitas yang besar di atas reruntuhan [ruinen] dari usaha sebelumnya” (Surat NISM, Surabaya, 22 Februari 1915, kepada Direktur Departement van Financiën; arsip koleksi ANRI, Jakarta).
Kini, setelah lebih dari tiga perempat abad tersimpan pada sedikit rak perpustakaan (antara lain di Perpustakaan KITLV, Leiden, Belanda), Het alcoholkwaad mungkin tak lebih sebagai dokumen sejarah yang berdebu. Demikian juga arsip-arsip penunjang tambahan yang telah dikutip. Akan tetapi, bagaimanapun masih ada pelajaran yang sesungguhnya dapat kita petik sekarang: suatu perintah larangan akan dipatuhi apabila pemberi perintah juga tidak melanggarnya .
Boleh tidaknya khamar dan Variannya di gunakan manusia.
Alkohol merupakan bahan memabukkan yang merupakan inti dari khamr, sehingga haram bagi seorang muslim untuk memiliki alkohol dengan cara apa pun, baik dengan membuatnya sendiri, membelinya, atau dengan cara yang lain.

Desinfeksi alat-alat medis bukanlah alasan yang ditolerir untuk bisa menggunakan alkohol, dengan dua alasan:

1. Rasulullah  bersabda:

“Sesungguhnya khamr itu bukan obat, melainkan penyakit.”

Beliau mengatakan hal ini ketika Thariq bin Suwaid Al-Ju’fi bertanya tentang pembuatan khamr untuk pengobatan. (HR. Muslim, no. 1984) Dan masih ada hadits-hadits lainnya yang menunjukkan haramnya pengobatan dengan sesuatu yang haram.

2. Kondisi darurat yang dengan itu diperbolehkan menggunakan sesuatu yang haram, adalah jika memenuhi dua persyaratan, sebagaimana ditegaskan oleh Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin  dalam Asy-Syarhul Mumti’ (6/330, cetakan Darul Atsar):
a. Seseorang terpaksa menggunakannya jika tidak ada alternatif lain.

b. Ada jaminan/ kejelasan bahwa dengan itu kondisi darurat akan benar-benar teratasi.

Padahal fakta membuktikan bahwa penanganan medis bukanlah satu-satunya alternatif kesembuhan. Karena tidak sedikit penderita yang sembuh tanpa penanganan medis. Melainkan hanya dengan rutin mengkonsumsi obat-obat nabawi atau ramuan-ramuan tertentu disertai kesungguhan dalam menghindari pantangan penyakit yang dideritanya. Anggaplah pada kondisi darurat tertentu terkadang seseorang terpaksa harus menjalani penanganan medis, namun –alhamdulillah– masih banyak alternatif lain selain alkohol untuk disinfeksi alat-alat medis.

Adapun najis atau tidaknya alkohol, maka ini kembali kepada permasalahan najis atau tidaknya khamr. Jumhur ulama, termasuk imam yang empat (Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i, dan Ahmad rahimahumullah) berpendapat bahwa khamr adalah najis. Dan ini dibenarkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Mereka berdalilkan firman Allah :

“Wahai orang-orang yang beriman, hanyalah sesungguhnya khamr, judi, patung-patung yang disembah, dan azlam1 adalah rijs, merupakan amalan setan.” (Al-Ma`idah: 90)

 Namun yang benar adalah pendapat Rabi’ah (guru Al-Imam Malik), Al-Laits bin Sa’d Al-Mishri, Al-Muzani (sahabat Al-Imam Asy-Syafi’i) dan Dawud Azh-Zhahiri, bahwa khamr tidak najis. Ini yang dipilih oleh Al-Imam Asy-Syaukani, Asy-Syaikh Al-Albani, dan Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahumullah. Karena hukum asal segala sesuatu adalah suci kecuali ada dalil yang menunjukkan najisnya. Karena tidak ada dalil yang menunjukkan najisnya khamr, maka kita menghukuminya dengan hukum asal.

Meskipun khamr haram namun tidak berarti najis, karena tidak ada konsekuensi bahwa sesuatu yang haram mesti najis. Al-Imam Ash-Shan’ani dan Al-Imam Asy-Syaukani menjelaskan kekeliruan anggapan sebagian ulama bahwa sesuatu yang haram konsekuensinya menjadi najis. Yang benar, hukum asal segala sesuatu adalah suci dan keharamannya tidaklah otomatis menjadikan hal itu najis.

Sebagai contoh, emas dan kain sutera telah disepakati dan diketahui bahwa keduanya suci, meskipun haram bagi kaum lelaki untuk mengenakannya. Namun sebaliknya, najisnya sesuatu berkonsekuensi bahwa sesuatu itu haram.

Adapun dalil yang digunakan oleh jumhur ulama, maka hal itu adalah ijtihad mereka –rahimahumullah– dalam memahami ayat tersebut. Padahal najis yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah najis maknawi, artinya minum khamr adalah perbuatan najis (kotor) yang haram, meskipun zat khamr itu sendiri adalah suci. Pemahaman ini didukung dua faktor:

1. Khamr dalam ayat tersebut disejajarkan dengan najisnya alat-alat judi, berhala-berhala sesembahan, dan anak-anak panah yang digunakan untuk mengundi nasib. Padahal disepakati bersama bahwa benda-benda tersebut adalah suci, yang najis adalah perbuatan judinya, perbuatan menyembah berhala, dan perbuatan mengundi nasib. Demikian pula dengan khamr. Yang najis adalah perbuatan minum khamr, bukan khamr itu sendiri.

2. Kata rijs (yang diartikan najis) dalam ayat di atas disifati dengan kalimat berikutnya, yaitu

(merupakan amalan setan). Jadi yang dimaksud adalah amalannya bukan zatnya.

Kesimpulannya, bahwa ayat tersebut tidak cukup sebagai dalil untuk menggeser hukum asal tadi.

Justru terdapat hadits-hadits shahih yang menunjukkan sucinya khamr, sehingga makin menguatkan hukum asal tersebut. Hadits-hadits itu di antaranya:

1. Hadits Anas bin Malik  yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitabul Mazhalim, Bab Shubbil Khamri fi Ath-Thariq no. 2464, juga hadits Abu Sa’id Al-Khudri z yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitabul Musaqat, Bab Tahrimi Bai’il Khamr no. 1578. Disebutkan dalam kedua hadits itu bahwa para shahabat menumpahkan khamr mereka di jalan-jalan ketika diharamkannya khamr. Ini menunjukkan bahwa khamr bukan najis, karena jalan-jalan yang dilewati kaum muslimin tidak boleh dijadikan tempat pembuangan najis. Bila ditanyakan: “Apakah hal itu dengan sepengetahuan Rasulullah?” Maka dijawab: Jika Rasulullah  mengetahuinya berarti hal itu dengan persetujuan beliau . Berarti hadits tersebut marfu’ secara hukum. Bila tidak diketahui oleh beliau, maka sesungguhnya Allah k mengetahuinya, dan Allah k tidak akan membiarkannya bila memang hal itu adalah suatu kemungkaran, karena waktu itu merupakan masa turunnya wahyu.

2. Hadits Ibnu ‘Abbas  yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitabul Musaqat, Bab Tahrimi Bai’il Khamr no. 1579, bahwa seorang laki-laki menghadiahkan sebuah wadah berisi khamr kepada Rasulullah. Maka Rasulullah   berkata: “Tidakkah engkau mengetahui bahwa khamr telah diharamkan?” Kemudian ada seseorang yang membisiki laki-laki tersebut untuk menjualnya. Maka Rasulullah  bersabda:

“Sesungguhnya Dzat Yang mengharamkan untuk meminumnya juga mengharamkan untuk menjualnya.”
Kemudian Ibnu ‘Abbas berkata:

“Maka lelaki itu membuka wadah khamr tersebut dan menumpahkan isinya hingga habis.”

Kejadian ini disaksikan oleh Rasulullah  dan beliau tidak memerintahkan kepadanya untuk mencuci wadah tersebut. Ini menunjukkan bahwa khamr tidaklah najis . Wallahu a’lam bish-shawab.


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: