Oleh: nusaibah | September 16, 2007

Terorisme dan Dilema Kemanusiaan

terorisAkhir-akhir ini aparat keamanan kembali disibukkan oleh pengejaran para pelaku pengeboman di Jakarta, berbagai spekulasi muncul untuk mereka-reka motif dibalik peledakan bom tersebut. Hasil penyelidikan sementara menyebutkan bahwa pelaku bom adalah para pemain lama dari bom Bali, yaitu para ekstrimis muslim baik dari Indonesia maupun Malaysia. Sekalipun belum bisa dipastikan konspirasi besar apa yang melatarbelakangi aksi-aksi tersebut, lagi-lagi ummat Islam yang menjadi sasaran telunjuk sang penuduh. Sehingga tercipta berbagai macam stereotip negatif terhadap ummat Islam, padahal secara teoritis ajaran Islam sama sekali tidak pernah membenarkan aksi-aksi keblinger dari para pengebom tersebut. Dalam sejarah Islam ketika berperang para khalifah senantiasa menekankan untuk mengedepankan etika dalam berperang seperti dilarang merusak tanaman, rumah tempat tinggal, rumah ibadah, membunuh wanita dan anak-anak dan dilarang mengejar musuh yang sudah lari. Karena itu Islam tidak mengenal perilaku destruktif dan sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Tampaknya aksi-aksi teror ini adalah bentuk perlawanan sekelompok gerakan kladestein (bawah tanah) yang marah karena ummat Islam terhegemoni secara ekonomi, politik, dan militer; dimana perusahaan multi internasional mereka menguras sumber daya alam kita, kapal-kapal militer mereka menjelajahi lautan kita, satelit mereka memata-matai kita, dan mereka mendominasi institusi-institusi internasional semisal dewan keamanan PBB dan IMF untuk merugikan kepentingan kita, mendikte kita untuk melakukan demokratisasi, menghargai hak asasi manusia dengan standar mereka sendiri dan seterusnya.

Dari berbagai aksi peledakan bom tersebut, terlihat banyak kejanggalan-kejanggalan, diantaranya adalah terbongkarnya pertemuan Ali Imron -salah seorang terdakwa bom- dengan Gorries Mere di Star Bucks kafe di Jakarta. Hal ini memunculkan spekulasi bahwa aksi-aksi teroris tersebut didalangi oleh sebuah teori konspirasi besar antara Amerika (CIA) dan Israel (Mossad) yang sengaja menyelusup ke dalam gerakan-gerakan Islam militan. Disini secara tidak sadar ummat Islam sedang kecolongan, karena agen-agen CIA dan Mossad dapat bergerak secara halus dan tanpa pernah terduga sebelumnya. Melihat fakta tersebut, sepertinya isu terorisme menjadi semacam pembenaran terhadap tesis Samuel P Huntington dalam sebuah artikelnya yang kontroversial di tahun 1993 yang berjudul “The Clash of Civilizations“. Dimana Huntington mengatakan bahwa setelah ideologi komunis di dunia mengalami keruntuhan, maka ancaman selanjutnya bagi Kapitalisme Barat adalah Islam. Statement ini semakin membangkitkan respon global khususnya setelah terjadi serangan 11 September, dan munculnya Osama Bin Laden sebagai ikon perlawanan terhadap Amerika dan Yahudi. Menurut Jhon L. Esposito, Huntington -seperti banyak orang Barat sekarang- masih menggunakan stereotip lama dengan mencirikan Islam dan Barat sebagai musuh bebuyutan, melalui dua paramater yang tidak dapat dipertanggungjawabkan yaitu: (1) konflik peradaban Islam dan Barat yang telah berjalan selama 1.300 tahun dan (2) bahwa Islam menolak ide-ide Barat seperti individualisme, liberalisme, konstitusionalisme, HAM, aturan hukum Barat, demokrasi, pasar bebas, dan pemisahan antara agama dan negara.

Sementara itu analisis lain mengatakan bahwa sebenarnya isu terorisme sengaja dimunculkan oleh Amerika untuk mengantisipasi kebangkitan ekonomi negara Cina yang juga mengusung ideologi komunis. Ini menandakan bahwa tesis dari Huntington terlalu dipaksakan karena sejatinya komunisme belum benar-benar runtuh, dan komunisme Cina bisa jadi menjadi semacam antitesa bagi kapitalisme Barat. Agen-agen kapitalisme Yahudi-Amerika seperti Goerge Soros sengaja menghidupkan isu terorisme di Indonesia, agar mereka mendapatkan alasan untuk mendirikan pangkalan militer di Asia Tenggara. Selain itu upaya penguasaan minyak dunia sudah berhasil dilakukan oleh Yahudi-Amerika dengan menjajah Afghanistan dan Irak, karena sumber daya alam dua negara tersebut adalah aset ekonomi terbesar di dunia saat ini, sekaligus menegaskan persaingan ekonomi dengan Cina.

Ditinjau dari sisi humanistik, terorisme adalah sebuah dilema kemanusiaan yang luar biasa, karena semua teror yang terjadi mengorbankan nyawa masyarakat sipil yang tidak berdosa dan tidak tahu menahu mengenai konflik tersebut. Secara teoritik baik Barat, Yahudi, Islam memiliki konsep tersendiri mengenai humanisme, kalau Barat memandang manusia adalah sosok yang super dengan kemampuan rasionalitas dan empirisme yang tinggi sehingga menegasikan peran-peran agama, dalam artian tidak percaya kepada hal-hal yang tidak bisa difikirkan, tidak bisa diukur dan menolak hal-hal yang bersifat akherati dan hanya menerima eksistensi material manusia di Bumi. Ini merupakan pengaruh dari paham pemikiran Yunani (helennistik). Sedangkan ummat Yahudi memiliki paradigma kemanusiaan yang sangat absurd, yaitu ia menganggap bahwa ummat Yahudi adalah ummat pilihan Tuhan yang lebih tinggi derajatnya dibandingkan ummat-ummat yang lain. Paradigma chauvinistik seperti ini membuat tentara-tentara Israel di Palestina membantai kaum Muslimin baik anak-anak maupun wanita dengan tanpa beban kemanusiaan apapun. Adapun Islam memiliki pandangan yang sangat egaliterian, dimana tidak ada perbedaan derajat kemanusiaan di dalam Islam, karena yang dinilai adalah ketaqwaannya, bukan ras, suku, ataupun golongan.

Kita semua sudah mafhum bahwa Amerika sekarang dikuasai oleh lobi Yahudi internasional dan boleh jadi isu terorisme adalah isu yang dibuat-buat, yang juga merupakan konspirasi besar untuk mengambat perkembangan kesadaran ummat Islam untuk bangkit. Sejak peristiwa 11 September, sudah ribuan nyawa ummat Islam yang terbantai baik di Afghanistan maupun di Irak, ini membuktikan bahwa yang sebenarnya teroris sejati (True Terorist) adalah Yahudi-Amerika itu sendiri. Sejak isu terorisme mulai bergulir, sudah ribuan ummat Islam yang tersiksa di penjara Guantanamo Kuba yang sangat jauh dari standar HAM yang mereka karang sendiri. Adapun di Indonesia, sejak bom mengguncang Bali, semakin banyak aktivis dakwah Islam yang dicurigai, ditangkapi dan dipukuli. Demikian pula halnya dengan eksistensi ormas Islam seperti Hidayatullah yang selama ini bergerak secara kultural, turut menjadi korban isu teroris tersebut. Seperti dilansir oleh media massa belakangan ini bahwa Hidayatullah cabang Manado terlibat terorisme.

Ummat Islam Indonesia belum lagi lepas dari trauma kemanusiaan di masa Soeharto, dimana banyak aktivis dakwah Islam yang terbantai, sejak peristiwa Tanjung Priok, Pembantaian Jamaah Warsidi, pemberangusan gerakan Usroh, dan aktivitas dakwah yang dianggap subversif dan anti pancasila. Tentunya semoga isu terorisme ini tidak menjadi batu loncatan bagi pemerintahan SBY untuk melakukan hal sama, mengingat latar belakang militer SBY dan kedekatannya dengan birokrasi Amerika. Karena apabila dilihat secara retrospektif, koalisi kerakyatan antara SBY dan partai Islam seperti PKS, penulis teringat pada koalisi antara Gamal Abdul Nasser dan Ikhwanul Muslimin dalam menggulingkan pemerintahan feodal Raja Farouk di Mesir. Akan tetapi koalisi tersebut tidak berlangsung lama, karena ketika Nasser berkuasa, ia menganggap bahwa Ikhwanul Muslimin suatu saat akan mengancam kekuasaannya dan ia menangkapi dan membunuhi ribuan aktivis dakwah Ikhwanul Muslimin. Semoga peristiwa menyedihkan yang pernah terjadi di Mesir ini tidak turut pula terjadi di Indonesia. Wallahu a’lamu Bisshawab.


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: