Oleh: nusaibah | September 25, 2007

Mutiara Hadits Ramadhan

من قام ليلة القدر إيمانا واحتسابا غفرله ما تقدم من ذنبه ( رواه البخاري ومسلم )

“Barang siapa yang menegakkan ibadah pada (malam) Lailatul Qadr dengan penuh keimanan dan mengharap akan pahala, maka akan diampuni segala dosa-dosanya yang telah lampau” (HR. Bukhari dan Muslim).

MUKADDIMAH

Bulan Ramadhan telah mendapatkan kemuliaan dari Allah SWT untuk menjadi bulan yang terbaik (sayyidusy syuhuur). Rasulullah Saw beserta sahabatnya dalam berbagai riwayat ditegaskan bagaimana merindunya mereka untuk bersua dengan bulan penuh berkah ini. Sehingga saat jasad mereka telah berada diantara hari-hari Ramadhan, kita mendapatkan emosi spiritual yang menggelora, luapan keimanan yang memuncak dan kerinduan untuk ‘bermesraan’ dengan Tuhan terekspresikan begitu eksplotif. Seakan waktu sebulan tak cukup untuk mencurahkan rindu setahun mereka untuk berjumpa dengan bulan suci ini.

Apatah lagi di sepuluh malam terakhir. Waktu-waktu pamungkas untuk memperlihatkan kesungguhan ibadah kita, keteguhan hati dan ketajaman munajah. Rentang waktu yang didalamnya Allah SWT titipkan satu malam yang berkualitas lebih baik dari seribu bulan (Khairun min alfi syahrin), yang merupakan puncak pemberian rahmat dan gelontoran karunia Allah SWT. Satu malam yang tidak didapatkan dibulan-bulan lainnya. Satu malam yang tidak semua Ash-shaim (yang berpuasa) menggapai keberuntungannya saat itu. Malam yang Allah pilih untuk menurunkan Al Qur’an pertama kali kepada manusia pilihan-Nya, Muhammad Bin Abdillah Bin Abdul Muthalib.

LAILATUL QADR, MALAM KEMULIAAN DAN KETETAPAN

Al Imam Muhyiddin An-Nawawi dalam syarahnya (ulasan) terhadap shahih Muslim menukil pendapat beberapa ulama tentang sebab penamaan malam ini dengan ”lailatul Qadr”. Pendapat pertama menegaskan bahwa nama lailatul qadr bertolak dari ketentuan-ketentuan tahunan Allah yang ditetapkan pada malam itu. Hal ini juga berdasar dari firman Allah SWT ”pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh kebijaksanaan” (QS. Ad-Dukhaan:4). Syekh Al-Hakamiy dalam ”Ma’arijul Qabuul” mengulang perkataan Imam Al Hasan Al Bashriy : ”Demi Allah yang tiada Tuhan selain Dia, bahwasanya –ketentuan tahunan tersebut- ditetapka dibulan Ramadhan terkhusus dimalam lailatul qadr. Dimalam itu Allah menetapkan ajal seseorang, pekerjaan dan rezekinya serta ketentuan lainnya”. Bahkan sahabat Ibnu Abbas menambahkan sampai pada tingkat siapa yang berhaji pada tahun itu, ditentukan dimalam lailatul Qadr.

Pendapat yang lain menetapkan sebab penamaannya dengan Lailatul Qadr karena keagungan dan kemuliaan malam tersebut. Allah SWT berfirman ”Malam Lailatul Qadr lebih baik dari seribu bulan” (QS. Al-Qadr:3).


KEUTAMAAN LAILATUL QADR

Beberapa ulama tafsir mengatakan bahwa ayat-ayat yang diawali dengan ungkapan ”Wa maa adraaka…” merupakan gambaran dari kedahsyatan serta keagungan obyek yang dipertanyakan diayat tersebut. Kesimpulan ini dipertegas dengan ayat-ayat Allah yang dimulai dengan ungkapan pertanyaan ini. Allah berfirman ”dan apakah yang engkau tahu tentang Al Haaqqah”, ”dan apakah yang engkau ketahui tentang Al Qaari’ah”, ”dan apakah yang engkau ketahui tentang Shaqar”

Imam Ibnu Jarir meriwayatkan dari Imam Mujahid bahwa makna ayat “lebih baik dari seribu bulan” adalah puasa dihari itu, juga ibadah-ibadah yang ditegakkan dimalam harinya lebih baik dari seribu bulan yang tidak terdapat didalamnya malam lailatul qadr.

Apatah lagi bila ditambah dengan hadits Nabi Saw ” “Barang siapa yang menegakkan ibadah pada (malam) Lailatul Qadr dengan penuh keimanan dan mengharap akan pahala, maka akan diampuni segala dosa-dosanya yang telah lampau” (HR. Bukhari Muslim), maka hanya hati-hati yang keras saja yang tidak tertarik akan keistimewaan malam mulia


WAKTU LAILATUL QADR

Dalam bukunya ”Shifat shaum Nabi fii ramadhaan”, syekh Salim Al Hilali dan Syekh Ali Hasan Ali Abdul Hamid menuliskan : diriwayatkan dari Nabi Saw bahwa waktu Lailatul Qadr itu jatuh pada malam kedua puluh satu, kedua puluh tiga, kedua puluh lima, kedua puluh tujuh atau kedua puluh sembilan, serta malam terakhir dari bulan Ramadhan.

Imam Asy-Syafi’i mengatakan ”menurut saya, wallahu a’lam, seakan-akan Nabi Saw memberikan jawaban atas apa yang ditanyakan kepada beliau. Ditanyakan kepada beliau : apakah kita bisa mendapatkannya pada malam anu? Beliau menjawab ” capailah a Lailatul Qadr itu pada malam anu”

Pendapat yang paling rajih (kuat) adalah pendapat yang menyebutkan bahwa lailatul qadr itu jatuh pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir pada bulan Ramadhan. Hal tersebut telah ditunjukkan oleh hadits Aisyah –radhiyallahu ’anha-, dimana dia bercerita bahwa Rasulullah Saw selalu bangun pada sepuluh malam terakhir pada bulan Ramadhan seraya bersabda : dapatkanlah (dalam sebuah riwayat : carilah) lailatul qadr pada malam ganjil dari sepuluh hari terakhir dibulan Ramadhan” (HR. Bukhari dan Muslim).

Jika seorang hamba tidak mampu untuk mengejarnya dari sepuluh hari terakhir, maka jangan sampai tertinggal untuk mengejar tujuh malam terakhir. Hal ini sesuai dengan apa yang diriwayatkan dari Ibnu Umar, dimana dia bercerita bahwa Rasulullah pernah bersabda :

التمسوها في العشر الأواخر فإن ضعف أحدكم أو عجز فلا يغلبن على السبع البواقي

“Carilah lailatul Qadr pada sepuluh malam terakhir. Jika salah saeorang diantara kalian tidak mampu atau lemah, maka hendaklah dia tidak ketinggalan untuk mengejar pada tujuh malam terakhir” (HR. Bukhari Muslim).

Dan hal ini menafsirkan sabda Rasulullah Saw yang lain :

“Aku melihat pandangan kalian telah lemah. Oleh karena itu, barang siapa yang hendak mencarinya, maka hendaklah dia mencarinya pada tujuh malam terakhir”(diterjemahkan oleh M. Abdul Ghoffar E.M dengan judul :Meneladani Shaum Rasulullah)


AMALAN MALAM LAILATUL QADR

Diriwayatkan dari Aisyah –Radhiyallahu anhaa- dimana beliau bercerita, pernah aku bertanya : wahai rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku mendapatkan Lailatul Qadr, apa yang mesti aku ucapkan? Beliau bersabda : bacalah

اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pema’af, yang mencintai maaf. Karena itu maafkanlah aku” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah).

Dan tidak disangsikan lagi bahwa amalan utama dimalam yang paling utama ini adalah menghidupkan malam ini dengan ibadah yang berdasarkan keimanan dan harapan yang besar untuk menggapai pahalanya. Sholat tahajjud, berdzikir, membaca Qur’an adalah bagian ibadah yang dapat menjadi penghias malam lailatul Qadr tersebut.

KHATIMAH

Dalam buku yang sama, syekh Salim Al Hilali dan Syekh Ali Hasan Ali Abdul Hamid juga menegaskan “orang yang diharamkan mendapatkan malam yang penuh berkah itu berarti dia telah diharamkan dari semua kebaikan, dan tidaklah seseorang diharamkan dari kebaikan melainkan dia benar-benar merugi. Oleh karena itu, dianjurkan kepada orang muslim yang benar-benar taat kepada Allah untuk menghidupkan lailatul Qadr. Ummul Mu’minin, aisyah binti Abi Bakar bercerita “jika memasuki sepuluh malam terakhir, Nabi Saw memperkuat ikatan kainnya (menghindari campur dengan istri) sambil menghidupkan malam itu serta membangunkan keluarganya” (HR. Bukhari dan Muslim)

Juga dari Aisyah, beliau meriwayatkan “ Rasulullah Saw berusaha keras pada sepuluh hari terakhir, yang tidak beliau lakukan pada bulan-bulan lainnya’ (HR. Muslim).

Adapun nasehat Rasulullah di bulan Ramadhan bisa di download Nasehat Ramadhan

 


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: