Oleh: nusaibah | November 20, 2007

BAGAIKAN KELEDAI DIBURU SINGA

(Kajian surah al-Muddatstsir ayat 38-56)

Muqaddimah

Ayat-ayat ini, dari 38 sampai 56, dalam Tafsir Ibnu Katsir dikelompokkan menjadi satu, yang sekaligus menutup surah al-Muddatsir. Jika kita perhatikan sejak awal surah, yang pada pokoknya memerintahkan Rasulullah bangkit memberikan indzar (peringatan), dimana fokus peringatan itu adalah akhirat dan segala kedahsyatan yang ada di dalamnya, maka kelompok ayat terakhir ini memberi penegasan kepada manusia untuk memilih sendiri jalan hidupnya. Pemilihan ini akan mereka hadapi hasilnya di akhirat kelak, sebab setiap manusia akan ‘tergadai’ dengan amal perbuatannya. Ada yang mampu menebus dirinya sehingga mendapat rahmat Allah, ada pula yang gagal sehingga tertahan di neraka.

Uslub dakwah seperti ini sudah menjadi qa’idah dalam pemaparan pesan-pesan al-Qur’an. Ada yang dimulai dengan inti perintah, dimulai dari ancaman, janji kebahagiaan, bantahan atas pengingkaran, dan sebagainya, tergantung titik mana yang akan diberi penekanan lebih.

Dalam surah al-Muddatsir ini, terlihat bahwa pemaparannya diawali dengan ancaman bagi mereka yang menolak beriman atau menaati Allah dan Rasul-Nya. Konteks surah ini menunjukkan hal itu. Permulaan surah ini memang turun dalam periode da’wah sirriyah, dimana perintah indzar yang diberikan oleh Rasulullah baru terbatas pada orang-orang tertentu yang dipercayainya. Maklum, surah al-Muddatsir adalah wahyu kedua setelah al-‘Alaq, dimana dalam riwayat yang kuat disebutkan turun tidak lebih dari 40 malam atau maksimal 6 bulan setelah wahyu permulaan. Namun, ayat-ayat selanjutnya turun jauh sesudah itu. Dalam sebuah riwayat yang tidak disepakati kebenarannya oleh para ahli hadits, disebutkan bahwa asbab nuzul ayat 52 dari rangkaian ini adalah keinginan Abu Jahal dan para pemuka kafir lainnya kepada Rasulullah, agar mereka diberi selembar kertas baru yang berisi wahyu langsung dari Allah kepada masing-masing dari mereka. Mereka menuntut bahwa diatas setiap kertas itu tertulis alamat “dari Allah untuk si fulan bin fulan”, yang berisi perintah agar mengikuti Rasulullah, atau catatan dosa-dosa mereka beserta cara menebusnya, atau pernyataan pembebasan mereka dari siksa neraka.

Jika benar riwayat ini, maka jelas ia diturunkan pada periode da’wah jahriyah. Paling tidak, setelah misi kenabian berlangsung lebih dari 3 tahun. Dalam sirah nabawiyah, tahun-tahun ini adalah permulaan konfrontasi langsung antara Rasulullah dengan para pemuka kafir Quraisy. Beliau sudah secara terbuka mengecam berhala dan sistem kepercayaan mereka, sementara mereka sendiri sudah semakin gerah dan melakukan beragam upaya untuk menghalangi. Riwayat ini merekam secuil dialog antar dua sistem akidah itu, dimana masing-masing pihak menuntut hal-hal tertentu kepada lawannya. Konteks ayat ini juga menunjukkan kesombongan kaum kafir, dimana mereka tidak pernah serius menanggapi seruan kebenaran. Bukannya mempertimbangkan, mereka malah bermain-main dengan permintaan yang tidak wajar, karena sebetulnya sejak awal mereka “sudah tidak ingin percaya”.

 

Manusia dan Amalnya

) كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِيْنَةٌ . إِلاَّ أَصْحَابَ الْيَمِيْنِ . فِي جَنَّاتٍ يَتَسَآءَلُوْنَ . عَنِ الْمُجْرِمِيْنَ . مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ (

Tergadai artinya tertahan, yakni akan dimintai pertanggungan jawab bahkan disiksa atas amal-amalnya selama di dunia. Nafs dalam al-Qur’an mengacu kepada totalitas pribadi seseorang yang dengannya ia dapat dibedakan dari pribadi lainnya. Menurut ar-Raghib al-Ashfahani, kasabat disini bermakna amal yang membawa akibat bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Jadi, ayat ini kembali menegaskan kaidah pertanggungan jawab secara pribadi di akhirat kelak, dimana setiap manusia akan menghadapi hisab atas perjalanan hidupnya, baik dalam hal-hal yang menyangkut dirinya sendiri maupun orang lain. Ayat-ayat yang senada dengan ini banyak ditemukan dalam al-Qur’an, di berbagai tempat.

Namun, selalu ada perkecualian disini. Bahwa sebagian dari manusia ada yang tidak tertahan oleh amal-amalnya. Mereka masuk surga dengan tanpa hisab. Imam Ibnu Katsir, al-Qurthubi, ath-Thabari maupun as-Suyuthi mencatat bagaimana para ahli tafsir klasik mengidentifikasi ash-habul yamin ini, sebagai : al-mu’minun al-mukhlishun, ash-habul jannah (calon ahli surga), ash-habul haqqi wa ahlul iman (yang teguh dalam kebenaran dan iman), yang menerima catatan amalnya dengan tangan kanan, pecinta Ahlul Bait, mereka yang dipilih Allah untuk berkhidmat kepada-Nya, malaikat, anak-anak kecil kaum muslimin yang meninggal sebelum baligh, dsb. Dari sini, dapat dilihat bahwa mereka adalah kalangan yang mengabdi kepada Allah dengan tulus dan benar.

Menurut kami, identitas kelompok ini – secara tidak langsung – dijelaskan dengan menyebutkan sifat-sifat orang yang masuk neraka Saqar. Maksudnya, ash-habul yamin adalah mereka yang sifatnya berkebalikan dengan para penghuni neraka. Ayat ini menyebut penghuni neraka sebagai al-mujrimin, yang makna aslinya – menurut ar-Raghib al-Ashfahani – “memotong buah dari tangkainya sebelum masak”. Artinya, ada pelanggaran nyata terhadap ketentuan dan perintah Allah. Orang-orang inilah yang dimasukkan ke dalam neraka Saqar, yakni kelompok yang gagal menebus ketergadaian dirinya.

 

Empat Perilaku “Mujrimin”

) قَالُوْا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّيْنَ . وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِيْنَ . وَكُنَّا نَخُوْضُ مَعَ الْخَائِضِيْنَ . وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّيْنِ . حَتَّى أَتَانَا الْيَقِيْنُ (

Pertama, tidak mengerjakan shalat. Dalam kepercayaan manapun, shalat adalah sentral bangunan sistem. Bentuknya bisa berbeda-beda. Dalam Islam, shalat merupakan pilar utama (‘imadu ad-diin), dimana agama ini takkan eksis tanpanya. Shalat juga menjadi simpul Islam (‘uro al-Islam) yang paling akhir, dimana jika ia lepas terurai dalam diri seseorang, maka lenyap pulalah seluruh ciri keislaman dari dirinya. Shalat adalah cermin hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya. Ketika para penghuni neraka Saqar mengakui bahwa mereka tidak shalat selama di dunia, itu berarti hubungan mereka dengan Allah sangat buruk. Kalau tidak tergolong sebagai musuh Allah, minimal mereka adalah orang yang tidak pernah memperdulikan Allah dalam hidupnya. Akar-akar kebaikan pun telah tercerabut dari jiwanya.

Kedua, tidak memberi makan orang-orang miskin. Pengakuan ini juga menjadi ciri lain yang umum berlaku para diri calon penghuni neraka : hubungan mereka dengan sesama manusia yang sangat buruk. Mereka hidup hanya untuk dirinya sendiri. Al-Qur’an sangat sering menonjolkan ciri keimanan dengan keperdulian kepada kaum lemah dan tertindas, dan sebaliknya memperlihatkan perilaku kekufuran sebagai menindas dan zhalim kepada sesamanya. Islam tidak melarang orang memiliki harta, namun mencela orang-orang yang egois dan tidak mau berbagi.

Ketiga, mempermainkan al-Qur’an, Islam atau Rasulullah. Mereka senang duduk-duduk berkumpul bersama membicarakan hal-hal yang tidak ada manfaatnya. Dalam menyikapi al-Qur’an, mereka senang untuk berolok-olok dan bermain-main. Terhadap Rasulullah pun tidak tampak kecintaan maupun sikap ta’zhim. Ketika membahas Islam, tidak ada keinginan sejati untuk beramal. Dan, setiap kali ada kawan mereka yang memiliki pendapat aneh, menyimpang atau kontroversial, serta-merta mereka mengamini dan membanggakannya sebagai sebuah “kejeniusan”.

Keempat, menolak adanya Hari Pembalasan. Padahal, fokus indzar para Rasul adalah meyakinkan umat akan adanya akhirat dan kewajiban kita untuk mempersiapkan kedatangannya, baik dengan atau tanpa argumen. Sebab, masalah akhirat dan hal-hal ghaib lainnya hanya tergantung iman, bukan bukti, dalil, maupun hujjah. Kalau saja akhirat tidak ada, maka agama pun tidak lagi perlu. Disinilah letak masalahnya. Sejak awal, hubungan mereka dengan Allah sangat buruk, bersikap egosentris dan individualis, suka mempermainkan agama dan hal-hal yang berhubungan dengannya, lalu terakhir mereka tidak mempercayai Hari Kebangkitan. Kami tidak tahu, manakah dari keempat penyakit ini yang paling parah dan lebih dahulu muncul. ‘Abdullah bin Mas’ud radhiya-llahu ‘anhu mengomentari ayat ini, “Adakah Anda melihat dalam diri orang-orang ini suatu kebaikan pun? Ingatlah, tidak tersisa kebaikan sedikipun bagi orang yang di dalam dirinya ada (empat perkara) ini.”

Hanya saja, dapat diasumsikan, jika ada cacat pada salah satu dari empat pokok persoalan diatas, kemungkinan besar akan diiringi dengan ketidaksempurnaan pada aspek lainnya. Keempat aspek itu adalah : ibadah yang tersimpul dalam shalat; kepekaan sosial yang terangkum dalam memberi makan kaum miskin; jihad yang terpadu dalam pengagungan terhadap pokok-pokok agama; lalu mengimani Hari Kebangkitan. Sayangnya, pengakuan ini datang terlambat, yakni saat telah datang kepada mereka al-yaqiin, alias al-maut. Tidak ada lagi pintu taubat setelah itu. Na’dzu billah min dzalik!!

 

Bagai Keledai Diburu Singa

) فَمَا تَنْفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِيْنَ . فَمَا لَهُمْ عَنِ التَّذْكِرَةِ مُعْرِضِيْنَ . كَأَنَّهُمْ حُمُرٌ مُسْتَنْفِرَةٌ . فَرَّتْ مِنْ قَسْوَرَةٍ (

Imam al-Qurthubi mencatat riwayat dari Ibnu Mas’ud, bahwa beliau berkata, “Nabi kalian akan memberikan syafa’at dalam urutan yang keempat : Jibril, kemudian Ibrahim, kemudian Musa atau ‘Isa, kemudian Nabi kalian shalla-llahu ‘alaihi wa sallam, kemudian para malaikat (yang lain), kemudian para Nabi (yang lain), kemudian para shiddiqun (orang-orang yang benar), kemudian para syuhada’, dan (akhirnya) tersisa di dalam neraka Jahannam sekelompok orang (yang tidak bisa memperoleh syafa’at). Mereka ditanyai, ‘Apa yang membuat kalian masuk neraka Saqar?’ Mereka menjawab, ‘Kami dulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan tidak pula golongan orang yang memberi makan kaum miskin, dst.'” Mereka itulah orang-orang yang tetap tertinggal di neraka.”

Al-Qur’an merasa keheranan dengan perilaku orang-orang kafir itu selama di dunia. Mereka senantiasa berpaling dari peringatan Allah dan Rasul-Nya. Hati mereka tidak tergerak oleh pesan-pesan taqwa. Bahkan, seakan-akan mereka adalah sekelompok keledai yang lari berhamburan karena takut mendengar auman singa, melihat tali-tali para pemburu, atau kedatangan para penembak jitu. Memang aneh, mereka tidak menyukai pesan-pesan taqwa sehingga semburat menjauhkan diri seperti keledai yag diburu.

Di Arab, keledai adalah simbol kedunguan. Kalau di Nusantara, mungkin kerbau. Jika diburu, konon keledai liar suka bertingkah konyol. Karena bingung dan panik, mereka bukannya lari menjauhi pemburunya, justru berlari cepat mendekat. Perumpamaan ini cukup menggambarkan suasana jiwa para pembenci risalah Islam. Ketika berlari menjauh, sesunguhnya mereka justru sedang memasukkan diri ke dalam perangkap dan kehancuran. Seakan-akan al-Qur’an bertanya-tanya, “Lihat orang-orang ini, hendak diselamatkan, tetapi justru menjerumuskan dirinya ke dalam jurang kebinasaan.” Tidak aneh jika dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, Sayyid Quthb kemudian menyebutnya sebagai “pemandangan yang sangat menggelikan”.

 

Al-Qur’an adalah Peringatan

) بَلْ يُرِيْدُ كُلُّ امْرِئٍ مِنْهُمْ أَنْ يُؤْتَى صُحُفًا مُنَشَّرَةً . كَلاَّ بَلْ لاَ يَخَافُوْنَ اْلأَخِرَةَ . كَلاَّ إِنَّهُ تَذْكِرَةٌ . فَمَنْ شَآءَ ذَكَرَهُ . وَمَا يَذْكُرُوْنَ إِلاَّ أَنْ يَشَآءَ اللهُ هُوَ أَهْلُ التَّقْوَى وَأَهْلُ الْمَغْفِرَةِ (

Ayat-ayat terakhir al-Muddatsir menegaskan kembali fungsi al-Qur’an dan makna agama bagi kehidupan manusia. Al-Qur’an adalah peringatan bagi manusia, yakni manusia yang mau menerimanya atas izin Allah. Al-Qur’an dan Islam bukan diturunkan untuk memberi “keajaiban”, apalagi jika ditujukan untuk memperoleh sesuatu hasil instan tanpa perjuangan dan amal. Al-Qur’an mendidik jiwa untuk berubah, dalam proses yang pelan namun membawa dampak pasti dan bertahan lama, bukannya menyulap keadaan agar sesuai keinginan dalam sekejap mata.

Permintaan kaum kafir ini khas orang-orang yang malas beramal dan bersusah-payah berjuang untuk memperoleh janji-Nya. Mereka ingin mendapat keajaiban dalam beragama, padahal sebetulnya mereka sangat enggan beramal dan samasekali tidak mengkhawatirkan masa depan mereka di akhirat kelak. Seperti sudah kita singgung dalam muqaddimah diatas, ayat ini memiliki latar belakang tertentu berkenaan dengan kaum kafir Quraisy.

Kritik ini berlaku sepanjang zaman. Di masa para Nabi terdahulu, umat mereka meminta diberi keajaiban-keajaiban dari langit sebagai prasyarat untuk beriman. Setelah benar-benar didatangkan, kekufuran mereka justru semakin membesar dan ejekannya bertambah keterlaluan. Ketika kaum Quraisy meminta hal yang sama kepada Rasulullah, dengan tegas Allah menolaknya. Disini, al-Qur’an membongkar motif asli dari permintaan tersebut, “Sekali-kali tidak. Akan tetapi, sesungguhnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat.” Jadi, segala permintaan itu tidak benar-benar tulus. Hanya main-main. Sebab, pada dasarnya mereka sudah memutuskan untuk tidak percaya. Terpenuhi atau tidak permintaan mereka, keadaannya tetap tidak akan berubah.

Dewasa ini, kritik tersebut tetap relevan, sebab makhluk yang dihadapi oleh al-Qur’an tetap manusia, seperti di masa silam. Generasi memang berganti, namun karakter dasarnya tidaklah bergeser dari apa yang telah ditetapkan Allah sejak semula. Jika sekarang banyak kalangan ingin menonjolkan keajaiban dalam beragama, maka disinilah letak bahayanya. Mukjizat dan keajaiban tidak akan bertahan lama, dan sebentar setelah itu akan dilupakan. Beragama tak sama dengan bermain sihir, cukup merapal mantra lalu apa yang diharapkan hadir di depan mata. Banyak orang tidak sabar dalam meniti hidup. Tatkala kondisi yang dialaminya tidak seideal khayalannya, dengan mudah agama dicampakkan. Padahal, masalahnya bukan pada agama atau al-Qur’an. Pertanyaan pertama yang mesti diajukan adalah, “Sudahkan sikap, perilaku, keyakinan, visi dan perasaan yang diajarkan oleh Islam terpenuhi dalam diri?” Sebab, bagaimanapun juga, Allah tidak pernah memberi imbalan gratis, tanpa amal dan perjuangan.

Untuk itu, kepasrahan kepada Allah menjadi penting. Tidak mudah untuk menerima pesan-pesan al-Qur’an dan menanamkannya dalam jiwa. Kita harus memohon kepada Allah hidayah dan taufiq-Nya. Tidak ada yang bisa menerima peringatan-Nya tanpa izin dan kehendak-Nya. Setelah itu, kepada-Nya kita bertaqwa. Setelah itu, bila dalam segenap amal kita ada kekurangan, sesungguhnya Allah pulalah tempat memohon ampun dan maaf. “Huwa ahlu at-taqwa wa ahlu al-maghfirah”.

Wallahu ‘alam bish-shawab.



Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: