Oleh: nusaibah | November 20, 2007

MEMULAI SEGALANYA DENGAN ILMU

Pentingnya Ilmu

Sejak awal, Islam telah menimbulkan suatu revolusi terhadap konsep agama dan maknanya bagi manusia. Berbeda dengan agama lain, Islam menghubungkan agama dengan sains, agama dengan politik, dunia dengan akhirat; semua hal-hal yang biasanya dilihat secara terpisah. Oleh karenanya, memahami konsep agama dalam perspektif Islam adalah sebuah kepentingan yang tidak bisa dilepaskan dari proses pembangunan kepribadian Islami (syakhshiyyah islamiyah).

Islam adalah konsep komprehensif atas segenap aspek kehidupan, bukan semata-mata berisi ritual dan doa-doa. Islam adalah ad-dien, bukan sekedar religion atau agama. Dengan selesainya masa pewahyuan, maka Islam telah memiliki konsep yang khas, komprehensif (syamil) dan lengkap (kamil) tentang dirinya, manusia, kehidupan, dan bagaimana menghubungkan semua itu dalam satu kesatuan (tawhid), demi mewujudkan pengabdian tunggal kepada Allah. Sayyid Abul A’la al-Mawdudi menulis sebuah risalah kecil yang dengan detail menjelaskan 4 konsep dasar dalam Islam : al-ilah, ar-rabb, ad-dien dan al-‘ibadah.

Kita tidak bisa memakai frame-work Barat atau tradisi-tradisi agama pagan dalam memaknai Islam, terutama dalam kaitannya dengan kehidupan. Barat memakai pendekatan sosiologi-antropologi-psikologi untuk memahami agama, sehingga sepenuhnya bersifat empiris-sekuler-relatif. Menurut sudut pandang ini, segala yang tidak bisa dibuktikan lewat empirisme, adalah sesuatu yang tidak mungkin diterima. Jika pun diterima, maka ia bersifat relatif dan subyektif.

Diantara sekian banyak isu mendasar dalam peradaban umat manusia yang direvolusi oleh Islam adalah konsep ilmu. Dalam Islam, ilmu dilepaskan dari segala unsur mitos, magis, prasangka tak berdasar, dan hal-hal yang bersifat pseudo-sains lainnya. Contoh pseudo-sains adalah astrologi. Selain mengakui pencapaian ilmu melalui upaya-upaya eksperimental dan empiris, Islam juga meneguhkan bahwa ada sumber otoritas mutlak dalam ilmu, yakni wahyu dan kenabian. Sejak wahyu pertama turun, perintah pertama adalah iqra’, yang memiliki makna dasar darasa (mengkaji), faqiha (memahami), jama’a (mengumpulkan), dan hafizha (menghafal).

Para ulama’ generasi terdahulu pun telah mengisyaratkan pentingnya ilmu dalam karya-karya mereka. Imam al-Bukhari memulai kitab al-Jami’ ash-Shahih dengan Kitab Bad’il Wahyi (awal mula turunnya wahyu). Ini adalah pengakuan terhadap otoritas tertinggi wahyu sebagai sumber ilmu. Dapat dimaklumi pula, wahyu pertama adalah surah al-‘Alaq ayat 1-5, dimana di dalamnya Allah berfirman “alladzi ‘allama bil qalam, ‘allamal insana ma lam ya’lam”. Hampir seluruh tafsir akan mencantumkan riwayat detail dan panjang tentang al-qalam (pena) dan peran sentralnya dalam peradaban. Bahwa, al-qalam adalah ramz al-‘ilmi wa at-ta’lim (simbol ilmu dan pengajaran). Ilmu adalah ruh Islam. Tanpanya, Islam akan mati.

Kitab al-‘Ilmi ditempatkan oleh Imam al-Bukhari sebagai bab ke-3, setelah Kitab Bad’il Wahyi dan Kitab al-Iman. Bahkan, di dalamnya ada bab yang berjudul Bab al-‘Ilmi qablal Qaul wal ‘Amal (pasal tentang ilmu sebelum berbicara dan berbuat), yang merupakan pasal ke-10 dalam Kitab al-‘Ilmi.

Imam al-Ghazali memulai kitab Ihya’ ‘Ulumiddin-nya dengan Bab al-‘Ilm. Dalam kitab at-Targhib wa at-Tarhib, Imam al-Mundziry menempatkan Kitabul ‘Ilmi : at-Targhib fil ‘Ilmi wa Thalabihi wa Ta’allumihi wa Ta’limihi wa ma Jaa’a fi Fadhlil ‘Ulama’ wal Muta’allimin (Bab tentang Ilmu : Motivasi tentang Ilmu, Mencari Ilmu, Mempelajari dan Mengajarkannya, serta Riwayat lain tentang Keutamaan Ulama’ dan Pengajar), sebelum bab-bab ibadah seperti bersuci, shalat, zakat, puasa, haji, dan bahkan jihad fi sabilillah. Kitab al-‘Aqidah an-Nasafiyah yang berbicara tentang teologi, juga mengawali pembahasannya dengan menjelaskan konsep ilmu dalam pandangan Islam.

 

Para Sahabat Menuntut Ilmu

Tidak mudah menggambarkan semangat para Sahabat menuntut ilmu. Bukan karena sedikitnya data, namun karena melimpah-ruahnya riwayat tentang hal itu sehingga mustahil ditulis dalam makalah ringkas ini. Sebagai bukti, adalah terawatnya ribuan hadits-hadits Rasulullah dalam berbagai kitab yang shahih dan kredibel. Jika tidak ada tradisi ilmu yang sangat kuat di tengah-tengah mereka, tentu kita di zaman ini akan bernasib sama dengan kaum Nasrani dan Yahudi, dimana agama mereka telah kehilangan otentisitas karena sumber-sumber aslinya tidak terawat dan tidak mungkin ditelusuri kembali.

Banyak diantara Sahabat yang kemudian dikenal sebagai para “Raja Perawi Hadits”, dimana mereka menghafal dan mentransmisikan kembali puluhan, ratusan sampai ribuan hadits Nabi secara lisan dari ingatan mereka. Pada generasi berikutnya, rekor ini dipecahkan dengan lebih spektakuler lagi. Menurut sebuah catatan, Imam al-Bukhari menghafal sekitar 100.000 hadits shahih, dan kurang lebih 200.000 hadits lainnya dari berbagai tingkatan.

Adalah mengherankan, bahwa para Sahabat sangat teliti memperhatikan “peragaan” Rasulullah dalam segala hal. Bahkan, banyak diantaranya yang sangat sepele dan jarang diperhatikan. Riwayat tentang rambut, jumlah uban, bentuk wajah, postur tubuh, gigi, cara berjalan, dan lain-lain diingat dengan baik. Ada riwayat yang melimpah tentang cara menyisir rambut, memakai alas kaki, masuk kamar kecil, cara berpakaian, dsb. Sebagian kecil ada yang mencatat, dan mayoritas menghafalnya di luar kepala. Seluruh “peragaan” itu kemudian dikenal sebagai as-Sunnah, yang mencakup ucapan, tindakan, keputusan, dan gambaran sifat Rasulullah SAW.

Mengapa ilmu sedemikian penting bagi para Sahabat dan generasi terdahulu dari umat ini?

 

Ilmu adalah Landasan Taqwa

Dalam kitab Ta’limul Muta’allim (teori-teori belajar), Syekh az-Zarnuji menulis, “Kemuliaan ilmu semata-mata karena ia merupakan perantara menuju taqwa, dimana dengannya manusia memperoleh kemuliaan di sisi Allah dan kebahagiaan abadi.”

Ibnu Rajab al-Hanbali berkata, “Dasar takwa adalah hendaknya hamba mengetahui yang harus dijaga kemudian dia menjaga diri.” Beliau juga berkata, “Barangsiapa menempuh suatu jalan yang dikiranya jalan ke Surga tanpa dasar ilmu, maka benar-benar telah menempuh jalan yang paling sukar dan paling berat, dan tidak menyampaikan kepada tujuan dengan kesukaran dan beratnya itu.”

Seorang ulama’ salaf yang lain berkata, “Bagaimana akan menjadi muttaqin, orang yang tidak mengerti apa yang harus dijaga?”

Imam asy-Syafii dalam kitab ar-Risalah berkata, “Adalah haqq bagi bagi seorang pencari ilmu untuk mencapai puncak kesungguhannya dalam memperbanyak ilmu, bersabar menghadapi rintangan yang menjauhkannya dari mencari ilmu, mengikhlaskan niat kepada Allah dalam mendapatkan ilmu baik secara tekstual (hafalan) maupun dengan menyimpulkan (analisa), serta berharap kepada pertolongan Allah di dalamnya karena tidak ada yang memperoleh kebaikan kecuali dengan pertolongan-Nya.”

Beliau juga berkata, “Sesungguhnya seseorang yang memperoleh ilmu tentang hukum-hukum Allah dalam Kitab-Nya, baik secara tekstual (hafalan) atau dengan cara mencari dalil (istidlal), maka Allah akan memberinya taufiq untuk berbicara dan berbuat sesuai apa yang diketahuinya tersebut, beruntung dengan karunia dalam agama dan dunianya, terhindar dari keraguan, bersinar terang hikmah dalam hatinya, dan berhak untuk mendapat kedudukan sebagai imam (pemimpin) dalam agamanya.”

 

Hidayah adalah Buah Ilmu

Imam Ghazali menulis kitab berjudul Bidayatul Hidayah (awal tumbuhnya hidayah). Secara umum, kitab ini berisi etika (adab) sehari-hari dalam kehidupan seorang muslim, sejak bangun tidur sampai tidur kembali. Dalam muqaddimah kitab tersebut, beliau menyatakan bahwa hidayah adalah tsamratul ‘ilmi (buah dari ilmu). Dengan kata lain, hidayah tidak akan tercapai tanpa landasan ilmu, dan niat mencari ilmu haruslah demi meraih hidayah Allah.

Dalam pembukaan Bidayatul Hidayah, Imam al-Ghazali menulis, “Sesungguhnya hidayah – yang merupakan buah dari ilmu – mempunyai pangkal (bidayah) dan ujung (nihayah), yang tampak (zhahir) dan yang tersembunyi (bathin). Tidak mungkin sampai ke ujungnya sebelum memantapkan pangkalnya. Tidak akan mengerti bathin-nya sebelum menyaksikan (musyahadah) terhadap zhahir-nya.”

 

Pentingnya Adab sebelum Ilmu

Islam menempatkan adab (etika) sebagai sebuah karakter yang penting dimiliki oleh seseorang, sebelum ia belajar dan agar bisa memperoleh manfaat dari ilmu yang dikajinya. Tidak ada ilmu yang memberikan manfaatnya jika adab-adabnya dilanggar dan dikacau-balaukan. Etika ini menyangkut niat; hubungan dengan guru, teman dan ilmu itu sendiri; kesungguhan, komitmen, semangat; tahapan belajar; berserah diri kepada Allah; bersikap wara’ (menjauhi yang haram dan syubhat); dan seterusnya.

Syekh az-Zarnuji menulis, “Saya melihat mayoritas mahasiswa dan pelajar di zaman ini berusaha keras untuk menyelesaikan studi namun gagal mendapatkan manfaat ilmu, atau minimal terhalang untuk mencapainya, yakni mengamalkan dan menyebarkannya, sebab mereka keliru memilih jalannya dan tidak memenuhi persyaratan-persyaratannya. Dan, siapa pun yang keliru memilih jalan, ia pasti tersesat, gagal mencapai maksud dan tujuannya, baik sedikit maupun banyak.”

Imam Malik bin Anas ketika kecil dan hendak berangkat mencari ilmu, dipanggil oleh ibunya, “Kemarilah, saya akan mengenakan untukmu pakaian ilmu.” Sang ibu kemudian mendandani Malik kecil dengan pakaian yang pantas, lalu berkata, “Sekarang temui Rabi’ah, pelajarilah adab sebelum ilmunya.” Rabi’ah adalah salah seorang ulama’ Madinah yang sangat gemilang di masa itu, lengkapnya Rabi’ah ar-Ra’yi bin Abi ‘Abdurrahman Farrukh.

 

Menjemput Hidayah

Imam al-Ghazali menyatakan, “Ketahuilah, manusia dalam mencari ilmu berada dalam 3 keadaan. Pertama, orang yang mencari ilmu sebagai bekal kembali kepada Allah, tidak menghendaki selain ridha-Nya dan (kebahagiaan) negeri akhirat, maka inilah orang yang beruntung.

Kedua, orang yang mencari ilmu untuk membantu kehidupannya yang sesaat (pragmatis), demi memperoleh kemuliaan, pangkat, dan harta; padahal dia mengerti dan menyadari dalam hatinya akan kerapuhan posisinya dan kerendahan tujuannya yang seperti itu; maka ia termasuk orang yang berada dalam bahaya besar. Jika ajalnya menjemput sebelum sempat bertaubat, dikhawatirkan ia terjerumus dalam su’ul khatimah. Urusan dirinya pun berada di tepi jurang, tergantung kehendak Allah (jika Dia mau akan diampuni, jika tidak maka akan disiksa). Jika ia mendapat taufiq untuk bertaubat sebelum tibanya ajal, kemudian menyandarkan kepada ilmunya itu amal, sekaligus berusaha mendapatkan apa-apa yang pernah dilewatkannya, maka ia akan menyusul kelompok orang-orang yang beruntung diatas. Sesungguhnya orang yang bertaubat dari dosa sama halnya dengan orang yang tidak berdosa.

Dan ketiga, orang yang dikendalikan oleh syetan sehingga menjadikan ilmunya sebagai sarana untuk menumpuk harta, mengejar pangkat, berbangga diri dengan banyaknya pengikut; (dimana) ia memanfaatkan ilmunya untuk memasuki segala celah demi meraih dunia dan semua keinginannya; padahal dia merasa dirinya di sisi Allah mempunyai kedudukan mulia, karena ia mengenakan simbol-simbol para ulama’, memakai “uniform” kebesaran mereka, baik dalam berpakaian maupun berbicara; disertai kegesitan untuk meraup keuntungan duniawi, maka ia adalah orang yang akan binasa. Ia orang dungu yang tertipu, terputus harapan darinya untuk bertaubat sebab ia menyangka dirinya termasuk orang-orang yang berbuat baik (muhsin).”

Golongan ketiga tersebut adalah para ulama’ as-suu’, yakni orang-orang yang keberadaannya lebih dikhawatirkan oleh Rasulullah SAW dibanding Dajjal sekalipun. Mereka ini orang-orang pintar yang hanya berkeinginan untuk menyesatkan manusia, memalingkan mereka kepada harta dan kenikmatan duniawi, baik dengan perkataan maupun perbuatan. Dengan perbuatan dan sepak-terjangnya mereka menyeru kepada dunia, padahal “lisaanul haal afshahu min lisaanil maqaal”. Perbuatan itu berbicara lebih fasih dibanding perkataan. Menurut Imam al-Ghazali, merekalah penyebab semakin beraninya orang-orang awam untuk berpaling kepada dunia. Sebab, orang awam tidak akan berani mengharapkan dunia kecuali para ulama’-nya telah berbuat demikian terlebih dahulu. Na’udzu billah.

Wallahu ‘alam bish-shawab.

Referensi :

1.       Tafsir ad-Durrul Mantsur fit Tafsir bil Ma’tsur, Imam Jalaluddin as-Suyuthi

2.       Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, Imam Abul Fida’ Ibnu Katsir ad-Dimasyqi.

3.       Tafsir al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, Imam al-Qurthubi

4.       Tafsir Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an, Imam Ibnu Jarir at-Thabari

5.       Ta’limul Muta’allim, Syekh az-Zarnuji

6.       Bidayatul Hidayah, Imam Abu Hamid al-Ghazali

7.       Ar-Risalah, Imam Muhammad bin Idris asy-Syafii

8.       Mu’jam Mufradat Alfazhil Qur’an, ar-Raghib al-Ashfahani

9.       Jurnal Islamia, No. 5 dan 6


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: